Selasa, 04 Januari 2011

PEMBERIAN PAKAN PADA AYAM PETELUR

LATAR BELAKANG
            Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, terutama kebutuhan gizi protein hewani. Komoditas peternakan terbesar di Indonesia saat ini berasal dari sektor perunggasan, hampir 70% industri peternakan didominasi industri perunggasan.
            Peternakan ayam ras petelur selama ini telah berkembang sangat luar biasa dan saat ini menjadi suatu usaha berskala industri yang sangat modern dengan didukung oleh 4 subsistem yang cukup kokoh, yakni industri hulu, industri hilir, subsistem budidaya, dan industri pendukungnya. Populasi ayam ras petelur hingga saat ini telah menyebar keseluruh wilayah di Indonesia. Seiring meningkatnya permintaan dan kebutuhan akan telur, maka diperlukan peningkatan produksi dan pengembangan usaha oleh perusahaan-perusahaan peternakan khususnya ayam petelur. Keberhasilan suatu usaha peternakan ayam petelur dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu, pakan, bibit, dan manajemen. Perusahaan yang mengabaikan manajemen dan sumber daya yang dimiliki cenderung tidak mampu bertahan maupun berkembang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan telur komersil tidak cukup hanya dengan menambah jumlah peternakan yang ada, tetapi usaha yang telah ada sebaiknya didukung oleh manajemen pemeliharaan yang baik dengan memperhatikan.
Faktor-faktor penunjang seperti perencanaan, manajemen produksi, perkandangan, dan manajemen sumber daya manusia, sehingga usaha yang ada baik usaha peternakan besar maupun kecil dapat berjalan dengan baik.
 Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur
Manajemen pemeliharaan ayam petelur meliputi pemilihan bibit, pemeliharaan starter-grower, pemeliharaan pullet, pemeliharan ayam petelur periode layer, pemberian pakan dan minum, pemantauan produksi baik hen-day maupun egg mass, biosecurity dan vaksinasi (Rasyaf, 2008). Hal yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan periode indukan adalah persiapan sebelum pemeliharaan anak ayam. Pemeliharaan periode indukan yaitu: 1) pemberian pakan; 2) pengaturan alat pemanas; 3) pengontrolan kesehatan dan sanitasi, dan; 4) program vaksinasi (Suprijatna, 2005). Tahap pemeliharaan lebih lanjut yang harus dilakukan untuk mempertahankan populasi ayam ras petelur, yaitu: 1) pemberian pakan dan minum, bertambahnya umur akan semakin meningkatkan kuantitas (jumlah) pakan yang dikonsumsi; 2) pengendalian suhu kandang, ayam ras petelur memiliki kebutuhan suhu kandang yang berbeda untuk setiap periode kehidupannya; 3) pengendalian kepadatan kandang; 4) penyinaran; 5) pengontrolan pertumbuhan ayam; 6) pemindahan ke kandang baterai (Abidin, 2003).
 Ayam Petelur
            Ayam petelur adalah ayam dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras dan tidak boleh disilangkan kembali (Sudaryani dan Santosa, 2000). Sifat-sifat yang dikembangkan pada tipe ayam petelur adalah cepat mencapai dewasa kelamin, ukuran telur normal, bebas dari sifat mengeram, bebas dari kanibalisme, nilai apkir ayam tinggi dan sebagainya (Yuwanta, 2004).
           Ciri ayam bibit petelur adalah berbadan ramping, kecil, mata bersinar dan berjengger tunggal merah darah (Rasyaf, 2008). Dijelaskan lebih lanjut oleh Rasyaf (2009), Seleksi pada ayam bibit harus mempertimbangkan berbagai faktor, karena apabila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan antara lain keterlambatan pada pertumbuhan, resistensi terhadap penyakit rendah dan angka mortalitas tinggi.
 Perkandangan
           Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan dan kesehatan pada ayam serta memudahkan manajemen pemeliharaan bagi peternak (Ensminger, 1992). Kandang berfungsi untuk melindungi ternak ayam dari pengaruh iklim buruk, seperti hujan, panas matahari atau gangguna-gangguan lainnya. Kandang yang nyaman dan memenuhi persyaratan perkandangan akan memberikan dampak positif sehingga ternak menjadi tenang dan tidak stres (Sudaryani dan Santosa, 2002).
           Model kandang umumnya dibedakan kandang cage dan kandang litter. Kandang cage mempunyai makna berbeda. Pada peternakan ayam petelur komersial ada dua cage sering digunakan yaitu cage individu dan cage massal. Cage individu digunakan untuk satu ekor ayam. Cage individu mudah digunakan dan populer sekali. Selain itu pengontrolan produksi, kesehatan ayam, pengafkiran ayam sakit, konsumsi ransum, kanibalisme dan persaingan sosial mudah dilakukan (Rasyaf, 2008). Beberapa prinsip penting dalam mengatur tata letak kandang aalah sebagai berikut : a) ayam tidak ditempatkan pada tempat yang ramai; b) jaak antar kandang minimal 10 m; c) antara kandang produksi I dan Produksi II di pisah (Rasyaf, 2009). Menurut Rukmana (2007), tata letak kandang yang baik yaitu : a) kandang harus lebihtinggi dari pada lingkungan disekitarnya; b) letak kandang harus jauh dari permukiman dan sumber air; c) letak kandang memungkinkan terkena sinar matahari; d) dapat diperluas dengan mudah jika sewaktu-waktu peternakan berkembang.
  Pemberian Pakan dan Air Minum
            Konsumsi pakan ayam petelur dipengaruhi oleh  kesehatan ayam, temperatur lingkungan, selera ayam dan produksi. Di Indonesia pakan ayam petelur masa bertelur I membutuhkan pakan sebanyak 18 % dan 15 % protein ransum untuk masa bertelur II. Saat produksi telur masih menanjak selama dua bulan semenjak 5% HD-kebutuhan protein cukup tinggi. Selama masa bertelur pemberian ransum berganti dua kali, pertama sewaktu mencapai 5% hen-day diberikan ransum ayam bertelur fase I (ransum layer I atau prelayer) dan setelah mencapai puncak produksi diberikan ransum ayam bertelur fase II (ransum layer II) (Rasyaf, 2008). Kebutuhan energi ayam petelur pada umur 14 minggu hingga mencapai 5% hen-day sebanyak 2750 kkal/Kg. Setelah mencapai 5% hen-day digunakan ransum dengan kandungan energi 2850 kkal/Kg.
            Menurut Johari (2004), ayam berumur 42 minggu  membutuhkan PK 21% dan ME 2950 kkal/Kg, 43-84 minggu membutuhkan PK 19 dan ME 2850 kkal/Kg, 85-112 membutuhkan PK 16-17% dan ME 2800 kkal/Kg  dan 112 minggu membutuhkan PK 21% dan 3100 kkal/Kg. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak. Menurut Surdayani dan Santoso (2000), bahwa pemberian ransum untuk periode petelur dapat diberikan sesuai dengan umur ayam, yaitu ayam 19-35 minggu membutuhkan ransum dengan protein 19%; energi metabolisme 2.800 kkal/kg; dan kalsium 3,8-4,2%, untuk ayam umur 53 minggu sampai 76 atau 80 minggu membutuhkan protein 18%; energi metabolisme 2750 kkal/kg; dan kalsium4,0-4,4%.
           Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tatalaksana pemberian air minum adalah : 1) air minum harus diberikan setengah jam sebelum pakan diberikan, 2) ketika dilakukan pemuasaan (off feed day) air minum hanya diberikan selama dua jam, setelah itu dipuasakan, 3) jika suhu lingkungan diatas 30°C atau kondisi ayam sedang sakit atau stres, air harus tersedia selama  24 jam, dan ayam sebaiknya mengkonsumsi air dengan kisaran 1,5-2 ml/gram konsumsi pakan (Wahju, 1997). Kebutuhan air pada ayam pada suhu lingkungan 25°C adalah dua kali jumlah pakan, namun pada suhu lingkungan 30-32°C konsumsi air dapat meningkat menjadi 4 kali jumlah konsumsi pakan (Sudaryani dan Santoso, 2002). 
Konversi Pakan
            Pada ayam petelur modern, dalam satu siklus masa produksinya yaitu berkisar 60 minggu akan mampu menghasilkan total telur seberat 21 kg. Sedangkan volume pakan standar  berkisar 46 kg atau equivalen dengan konversi pakan sebesar 2,1 (Wahyuni, 2008). Semakin rendah nilai konversi ransum berarti efisiensi penggunaan ransum semakin tinggi dan sebaliknya semakin tinggi nilai konversi ransum berarti ransum yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan persatuan berat menjadi semakin tinggi (Wahju, 1997).
Menurut Rasyaf (2008), nilai konversi pakan yang baik adalah  kurang satu 1 dimana pada nilai tersebut pakan digunakan sebaik-baiknya dan konversi lebih dari satu artinya konversi buruk, ayam yang sudah tua atau baru mulai bertelur atau adanya pencurian telur. Dijelaskan lebih lanjut oleh Rasyaf (2009) menyatakan bahwa tingkat konversi pakan yang berbeda–beda tergantung kadar protein dan energi metabolisme pakan, suhu lingkungan, umur ayam, kondisi kesehatan dan komposisi pakan. Apabila nilai konversi pakan semakin kecil maka konversi pakan baik, berarti ayam petelur dapat menggunakan pakan dengan baik dan dapat menghasilkan produksi telur dengan baik.
  Pencahayaan
            Pencahayaan sangat berkaitan erat dengan produksi dan ukuran telur karena merangsang kerja hormon untuk pertumbuhan dan pemasakan calon-calon telur (Sudaryani dan Santosa, 2002). Bagi ayam ras petelur sinar matahari memiliki fungsi yang cukup strategis antara lain membantu  proses pembentukan telur, membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dan pembentukan vitamin D. Kandang harus diusahakan setiap sisi mendapatkan intensitas cahaya sesuai dengan yang dibutuhkan yakni 80-140 foot candle (Johari, 2004). Pada fase layer, lama 16 jam dan intensitas pencahayaan 10-20 lux berada diantara fase starter dan grower. Pada fase layer, pencahayaan akan membantu proses pembentukan telur, pertumbuhan dan membantu metabolisme Ca dan P yang sangat diperlukan untuk pembentukan kerabang telur dan tulang (Wahyuni, 2008). Sistem pencahayaan pada kandang layer sebaiknya diberikannya selama 16 jam/hari (Ensminger, 1992).
 Mortalitas
Mortalitas adalah jumlah ayam yang mati hari itu dibagi jumlah ayam mula-mula kali 100% merupakan nilai mortalitas. Hal ini dapat berasal dari dalam peternakan sendiri seperti penyakit, manajemen yang salah, cuaca dan cekaman panas sedangkan dari luar peternakan seperti racun yang terkandung di dalam pakan atau ransum (Rasyaf, 2008). Mortalitas atau tingkat kematian adalah perbandingan antara jumlah ayam yang mati dengan jumlah ayam yang masih hidup. Mortalitas yang tinggi akan menyebabkan kerugian yang besar bagi peternak. Menurut (Wahyuni, 2008), mortalitas harus diukur secara kuantitatif, standart mortalitas ayam ras petelur untuk kondisi daerah tropis yaitu 4%. Mortalitas anak ayam dapat mencapai 68,5%, kematian yang sangat tinggi ini dapat tercapai sampai anak ayam berumur 6 minggu yang disebabkan oleh sekurang-kurangnya campur tangan pemelihara terhadap pengelolaannya. Hal ini dapat berasal dari dalam peternakan sendiri seperti penyakit, manajemen yang salah, cuaca dan cekaman panas sedangkan dari luar peternakan seperti racun yang terkandung di dalam pakan atau ransum (Wahyuni, 2008).
 Biosecurity, Pencegahan Penyakit dan Vaksinasi
           Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kebersihan kandang dalam kaitannya dengan langkah mengurangi populasi bibit penyakit, yaitu: 1) kadar amonia di dalam kandang, amonia dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan ayam; 2) mewaspadai jamur, dalam kondisi yang tidak terlalu parah jamur yang tumbuh dan tercampur dalam bahan pakan tersebut akan menyebabkan penurunan laju pertambahan berat                      badan ayam; 3) mencegah kontak antara sumber atau pembawa bibit penyakit dan ayam, dengan cara membatasi kontak dunia luar dengan ayam ras petelur yang dipelihara (Abidin, 2003). Pencegahan penyakit pada ternak ayam dapat dilakukan dengan cara sanitasi, pemberian pakan sesuai standar kebutuhan, penyediaan lingkungan yang nyaman, pengontrolan manajemen pemeliharaan, program vaksinasi, dan biosecurity (Suprijatna, 2005).
 Penanganan Produksi
           Memproduksi telur adalah upaya memadukan sumber daya terpilih                  agar menghasilkan telur melalui suatu teknik berternak yang telah                      ditentukan (Rasyaf, 2009). Faktor yang mempengaruhi produksi telur antara lain bibit, konsumsi pakan, lama pencahayaan, penyakit, lingkungan, dan manajemen pemeliharaan (sudaryani dan santoso, 2002).
 Hen Day Production
            Pengambilan telur dilakukan sebaiknya 2 kali sehari yaitu pukul 11.00 dan pukul 15.00 bila telur sudah berkumpul kemudian diseleksi berdasarkan besar dan keadaannya (Sudaryani dan Santosa, 2002). Produktivitas telur dapat dilihat dari produksi telur dan konversi pakan, produksi telur ayam petelur yang diamati yaitu produksi telur harian (“Hen Day Production”). Tujuannya pengukuran produksi telur adalah untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan oleh sekelompok ayam pada umur tertentu. Produksi telur berhubungan langsung dengan konversi pakan, semakin besar produksi telur (kg) yang dihasilkan semakin kecil nilai konversi pakan. Hen-day Production setiap strain ayam petelur berbeda-beda. Standar Hen-day Production strain ayam petelur Hisex,  Hyline, ISA Brown, Lohmann HD puncak produksi 96%, 94-96%, 95%, 94,5% (Wahyuni, 2008). Rumus yang dipakai dalam perhitungan HDP  yaitu :
HDP             
 Hen-House Production
            Hen-house production merupakan indikasi produksi yang mengukur berdasarkan jumlah ayam pada awal produksi (Rasyaf, 2009). Pada Hen Day Production diperhitungkan jumlah ayam pada hari bersangkutan, sedangkan pada Hen-house production didasarkan pada jumlah ayam pada awal produksi. Rumus perhitungan Hen-house production sebagai berikut :
HHP
(Rasyaf, 2008) 
Penanganan Telur
Telur didalam kandang hendaknya segera diambil dari kandang,  karena dikawatirkan akan dipatuk oleh ayam sehingga telur akan retak dan bila dibiarkan terlalu lama ada kemungkinan mikroba akan mudah masuk kedalam telur sehingga telur akan mudah busuk ( Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Penanganan telur meliputi pengamilan telur, seleksi telur, pengumpulan, fumigasi telur. Pengambilan telur merupakan fungsi produksi telur, semakin tinggi produksi  telur maka semakin tinggi pula frekuensi penambialan telur (Rasyaf, 2009).
  Egg Mass
            Berat telur ternak di daerah yang beriklim tropis berkisar 40–45. Anggorodi (1995) menambahkan besarnya telur dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk sifat genetik, tingkatan dewasa kelamin, umur, obat-obatan dan makanan sehari-hari. Faktor makanan terpenting yang diketahui mempengaruhi besar telur adalah protein dan asam amino yang cukup dalam ransum dan asam linoleat. Selain itu berat telur tergantung oleh umur ternak, semakin tua umur ternak semakin besar ukuran telur. Berat telur ayam rata-rata berkisar 60-70 gram, ayam petelur diperoleh nilai Egg Mass berkisar 35,4 -80 (Gary  dan Nilipour, 2008).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar